Rantang tidak boleh pulang kosong
Di kampung ibu saya di Klaten, rantang yang diantar pagi akan kembali sebelum magrib. Isinya tidak pernah dibicarakan, tetapi selalu dibaca.
Ratri Handayani, penjaga susun Nasi. Enam menit baca.
Ibu saya punya satu aturan yang tidak pernah ia jelaskan. Rantang tetangga yang mampir ke rumah tidak boleh dicuci lalu dikembalikan begitu saja. Harus ada isinya, walau cuma tiga potong pisang goreng di susun paling atas. Kalau hari itu dapur kami kosong, ibu menahan rantangnya semalam dan memasak sesuatu besok paginya. Lama saya kira itu sopan santun saja, sampai saya mulai memperhatikan apa yang orang isikan.
Di Klaten orang menyebutnya ater-ater: mengantar makanan ke rumah kiri dan kanan, biasanya menjelang hajatan, kadang hanya karena masaknya kebanyakan. Rantangnya dibawa anak kecil dengan dua tangan, disertai pesan supaya tidak berlari. Tiap dapur punya urutan sendiri. Ibu menaruh nasi paling atas, supaya yang pertama terlihat waktu tutup dibuka adalah yang paling putih. Lauk di bawahnya, lalu sayur berkuah yang diisi tidak sampai penuh. Sambal paling bawah, karena kalau tumpah ia tidak mengenai yang lain. Redaksi meminjam urutan itu untuk terbitan ini.
Yang saya tunggu waktu kecil adalah perjalanan pulangnya. Rantang kami biasanya kembali sebelum magrib, diantar anak tetangga yang disuruh ibunya. Isinya tidak pernah setara dengan yang kami kirim, dan tidak ada yang berniat menyetarakan. Bu Marni mengembalikan rantang opor dengan segenggam kacang rebus dari kebunnya. Keluarga di ujung gang mengisinya dengan empat tangkup gula jawa. Pernah satu kali rantang pulang hanya berisi garam kasar, sesendok, dibungkus daun pisang. Ibu tertawa lama sekali. Tetangga itu baru pindah, dapurnya belum jadi, dan ia tetap tidak mau mengirim rantang kosong.
Dari situ saya belajar membaca balasan. Pisang goreng berarti saya sempat. Gula jawa: saya tidak sempat, tapi saya ingat. Dan garam berarti saya belum punya apa-apa, tunggu saya. Di gang kami tidak ada yang mengucapkannya, dan seingat saya tidak ada yang salah paham.
Rantang minggu ini berangkat dari kebiasaan itu. Fadli pergi ke Sumedang dan menguji hal yang jarang diuji pengulas: apakah ayam goreng lengkuas masih enak setelah satu jam di dalam rantang. Jawabannya ada di susun kedua. Komang merekam satu panci lodeh yang dibagi ke tujuh rumah di Bantul. Di , kamu bisa melihat rantang-rantangnya pulang, dan tidak satu pun kosong. Hanum menulis kenapa sambal untuk dikirim harus dimasak lebih lama daripada sambal untuk dimakan sendiri.
Saya masih menyimpan rantang ibu. Bliriknya sudah gompal di tiga tempat dan pengaitnya harus ditekan dua kali baru mau mengunci. Tutupnya pengganti; yang asli tertinggal di sebuah hajatan dan tidak pernah kembali. Bulan lalu rantang itu saya antar ke tetangga baru di lantai bawah, berisi nasi liwet. Sore harinya ia kembali. Di susun paling atas ada lima butir kelengkeng dan secarik kertas bertuliskan nomor unitnya. Saya anggap itu garam versi tahun ini.
Sesudah tulisan ini:Ulasan ayam goreng lengkuasFilm Lodeh untuk tujuh rumahTiga catatan Hanum







